Thursday, November 8, 2007

Sejauh Kaki Melangkah (I)











Helsinki
"Parturi Kampaamo"



Ketika menelusuri jalan-jalan di pusat kota Helsinki-Finlandia pada akhir bulan September 2007 lalu, sekilas saya melihat sepenggal kata Parturi di deretan pertokoan. Kata itu mengingatkan saya akan seorang penutur cerita di Mandailing yang dinamakan Parturi juga. Namun setelah melakukan penelitian singkat, ternyata arti kata Parturi dalam bahasa Finlandia adalah "salon", suatu tempat mencukur rambut dan perawatan kecantikan lainnya, baik bagi pria maupun wanita. Di belakang kata Parturi biasanya ditambahkan kata Kampaamo, yang sinonimnya dalam Bahasa Indonesia atau Mandailing saya tidak tahu. 


Finlandia terletak di bagian sebelah utara benua Eropa. Negara tetangganya adalah Norwegia (sebelah Utara), Rusia (sebelah Timur), Swedia (sebelah Barat), dan Teluk Finlandia (sebelah Selatan). Luas wilayah Finlandia kurang lebih 338.000 km persegi dengan komposisi 10% air, 69% hutan, 8% tanah garapan dan 13% lain-lain. Jumlah penduduk diperkirakan sekitar 5,3 juta dan 62% penduduknya tinggal diperkotaan antara lain di Helsinki, Espoo, Tampere, Vantaa, Turku dan Oulu. Sebelum Abad X suku-bangsa Lapp dikenal sebagai penduduk Finlandia, namun kemudian terdesak oleh pendatang dari Timur-Selatan, yang sampai dewasa ini dikenal sebagai bangsa Suomi atau Finlandia. Sebagian suku-bangsa Lapp pindah ke daerah Scandinavia bagian utara dan menetap di sana sampai sekarang. Jumlah mereka yang bermukim sebagai warga negara Finlandia sekitar 6.500 orang. Finlandiai merdeka pada tanggal 6 Desember 1917 yang sebelumnya pernah dibawah kekuasaan Swedia selama 650 tahun dan Rusia selama 109 tahun.


Sistem sosial-politik Finlandia menganut nilai-nilai Demokrasi Liberal sebagaimana sistem pemerintahan di negara-negara barat pada umumnya. Negara yang berbentuk Republik Parlementer ini terbagi atas 6 propinsi dan masing-masing propinsi dipimpin seorang Gubernur. Presiden Republik Finlandia sekarang adalah Mrs. Tarja Kaarina Halonen dan Perdana Menteri dijabat oleh Mr. Matti Vanhanen. Pendapatan perkapita tahun 2004 sebesar USD 32.790 dengan pertumbuhan sebesar 3,3% pada tahun 2005, dan tahun berikutnya (2006) sebesar 4,4%. Sektor industri utama antara lain kayu dan kertas serta industri telekomunikasi. Perusahaan telekomunikasi Nokia merupakan perusahaan yang memberikan kontribusi yang besar terhadap perekonomian Finlandia.<01>




Hardrock Cape - Hong Kong
"Tobu Sirara"


Hong Kong, adalah salah satu kota terkenal di Asia yang terus "menggeliat" untuk membangun dirinya menjadi kota pelabuhan dan perdagangan internasional. Kota yang semula dibangun dan dikelola oleh pemerintah Inggris Raya ini, beberapa tahun lalu telah kembali ke pangkuan RRC. Meskipun di berbagai tempat tersedia pusat-pusat perbelanjaan modern (mall), namun di beberapa tempat masih banyak ditemukan pedagang kaki lima (PKL), tak ubahnya seperti keberadaan PKL yang ada di kota Jakarta, semisal di pusat perbelanjaan Blok M yang menjual aneka barang jadi: antara lain pakaian, parfum, gesper, tas, dompet, asesoris, dan lain sebagainya dengan harga yang relatif murah, dapat pula dijumpai di pusat kota dagang Mong Kok. Salah satu minuman ringan yang dijual di emperan kaki lima pasar Mong Kok ini, yang menarik perhatian saya adalah "air tebu" seperti yang dijual di emperan kaki lima kota Medan. Bedanya, air tebu yang dijual di pasar Mong Kok ini dimasukkan dalam wadah "botol plastik", sedangkan di kota Medan dijual dalam wadah "kantong plastik" lalu diberi alat penyedotnya. Namun di kampung halaman saya Mandailing ketika merayakan Hari Raya Idul Fitri (Ari Rayo) selalu ada orang kampung yang menjual "tebu" tapi airnya tidak diperas, melainkan dipotong-potong kecil lalu potongan-potongan tebu itu diberi zat pewarna merah atau hijau dan kemudian diberi penusuk yang terbuat dari sepotong bambu atau lidi daun pohon kelapa.



Makanan tebu seperti ini sangat disukai anak-anak, sampai-sampai baju baru mereka yang dikenakan pada hari lebaran itu terkena gincu (zat pewarna) dan hal ini dapat membuat "kesal" para orang tua sembari berkata: "na goso ma ho lei ... amang/inang ... na mangan tobu i, ligi ma bajumu kotor doma margincu-gincu". Selain tebu seperti ini dijual pada siang hari ketika Ari Rayo, ada juga yang menjualnya pada malam hari ketika berlangsung kegiatan seni pertunjukan "sandiwara" yang ramai ditonton orang sekampung dari semua tingkatan usia, bahkan banyak juga penontonnya yang berasal dari kampung-kampung lain, terlebih para muda-mudi sebenarnya tidak semata-mata melihat seni pertunjukan sandiwara, tetapi juga untuk menemukan tambatan hati (sang kekasih). Dalam seni pertunjukan sandiwara ini dahulu, pemainnya tidak ada wanita, semuanya laki-laki. Suatu adegan cerita dalam sandiwara yang menuntut peran sosok perempuan selalu dilakonkan oleh kaum laki-laki dengan berdandan bak seorang wanita. Si pemain laki-laki yang melakonkan peran wanita ini selalu menjadi pusat perhatian penonton karena dandanan dan tingkah-lakunya yang biasanya jenaka sehingga membuat penonton senang dan gembira hingga tertawa terpingkal-pingkal.



Semaraknya perayaan Ari Rayo dahulu ditandai oleh kehadiran sandiwara yang dipertontonkan selama tujuh malam berturut-turut. Seniman-seniman pada suatu kampung yang pandai menggarap cerita-cerita yang menarik dan mampu pula memainkan lakonnya dengan baik, maka sandiwara yang akan dipertunjukkan di kampung itu selalu ditunggu-tunggu dan menarik minat warga kampung lain untuk beramai-ramai menyaksikannya. Contohnya, sekitar tahun 1980-an, sandiwara yang dipertunjukkan di Singengu dan Tombang Bustak selalu ramai ditonton oleh warga kampung-kampung lainnya di Mandailing Julu. Biasanya, sehabis menonton sandiwara dimana warga kampung pulang ke rumah masing-masing untuk beristirahat (tidur), namun sebagian besar na poso-poso (para pemuda) yang berkumpul di sopo podoman masih marburas (cerita ngolor-ngidul) sembari menanti-nanti saat yang tepat untuk mangkusip (berkencan secara berbisik-bisik dengan dara kekasih hati) untuk dapat saling mencurahkan perasaan dan isi hati mereka yang sedang dimabuk asmara. Tidak jarang lantunan ende Ungut-ungut terdengar dengan iringan alat musik tiup suling atau salung itu, sayup-sayup terdengar dari arah sopo podoman. Aktifitas musikal ini bisa saja terjadi sewaktu-waktu mengingat relung-relung jiwa muda mereka penuh dengan gejolak perasaan cinta dan rindu dendam yang menggebu-gebu, terlebih-lebih bila teringat sang kekasih yang selalu dirindukan siang dan malam.



Semasa ini pula, di Kotanopan telah hadir beberapa kelompok musik modern (band) yang membawakan lagu-lagu Pop Indonesia, Malaysia dan Barat. Seperti Kasto yang berdomisili di Jambur Tarutung amat fasih dan enak didengar ketika ia melantunkan lagu-lagu Malaysia misalnya lagu "ibarat air di daun keladi", "Semalam di Malaysia", dan lain-lain; Mulyadi dan kawan-kawannya yang berdomisili di Sawahan, termasuk Edi Nasution semasa menetap di Banjar Lombang-Pasar Kotanopan, ketika tampil seringkali mendendangkan lagu-lagu Bimbo, Koes Plus, The Rhytim King, Panbers, Chrisye, God Bles, Giant Step, Black Brothers, dan sebagainya; setiap naik pentas untuk menyanyi, Rider yang juga tinggal di Banjar Lombang-Pasar Kotanopan, selalu membawakan lagu-lagu Hindustan (India); Tapa yang bermukim di Huta Padang, desa tetangganya Hutarimbaru, selalu mendapat aplus riuh dari penonton ketika ia mendendangkan lagu-lagu dangdut; namun yang cukup kontroversial ketika itu adalah Papa Dede (Bang Satan) yang berdomisili di Singengu bersama sobatnya si penggebuk drum yang cukup handal bernama Ramang, sangat apik membawakan lagu-lagu dan musik Rock Barat seperti lagu-lagu kondang John Lennon (Beatles) dan Elvis Presley, yang di masa ini disebut sebagian orang sebagai "musik setan", itu mungkin karena gaya pemusik dan penyanyinya ketika beraksi di atas panggung seperti "orang kesetanan". Tentu saja, kehadiran musik Rock Barat ini cukup "asing" bagi mereka, namun tidaklah begitu aneh dan berisik bagi telinga orang Mandailing yang terbiasa mendengar hingar-bingarnya bunyi musik Gordang Sambilan yang dimainkan dengan irama gondang Udan Potir (irama "hujan petir") dan keberadaan tokoh shaman Sibaso yang trance (kesurupan) ketika upacara ritual pasusur begu berlangsung di masa-masa sebelumnya. Di antara sejumlah pargordang yang berperan sebagai panjangati ("master drum") yang cukup handal saat ini di Mandailing Julu antara lain Munir Lubis yang berdomisili di Hutabaringin-Kotanopan dan Sutan Baringin yang bertempat tinggal di Bagas Godang Habincaran-Ulu Pungkut.

Semasa mahasiswa, saya bersama Fumi Tamura (pengajar seni di Tokyo University, Jepang) pernah mengaudio-visualkan seni pertunjukan Gordang Sambilan di Desa Sayurmaincat, Mandailing Julu pada tahun 1991. Ensambel Gordang Sambilan tersebut dipimpin oleh Sutan Guru Panusunan Lubis, salah seorang turunan raja dari Tamiang, Mandailing Julu. Salah satu irama yang mereka mainkan ketika itu adalah gondang mamele begu (irama memuja roh-roh leluhur). Itu menunjukkan bahwa ensambel Gordang Sambilan memiliki kedudukan dan peran penting dalam sistem kepercayaan animisme Sipelebegu yang dianut orang Mandailing dahulu.



Dalam sistem kepercayaan Sipelebegu ini ada dua tokoh yang tidak bisa diabaikan, yaitu Datu dan Sibaso (tokoh shaman). Sibaso, dalam banyak hal, dibutuhkan oleh pemimpin dan masyarakatnya untuk melakukan komunikasi dengan alam gaib (roh-roh leluhur). Ia berperan sebagai medium yang melalui suatu upacara ritual tertentu (marsibaso atau pasusur begu) dapat dirasuki oleh oleh roh leluhur untuk memberi petunjuk guna mengatasi berbagai macam bala (malapetaka) seperti terjadinya kemarau panjang atau mewabahnya penyakit menular. Sedangkan Datu selalu dipercayakan untuk memimpin upacara adat dan ritual karena ia dipandang sebagai "gudang ilmu". Kemampuannya dalam meramal diperlukan untuk melihat kapan datangnya suatu bencana atau sebaliknya keberuntungan, dan ilmu gaibnya yang luar biasa itu dibutuhkan untuk menangkal atau menyembuhkan penyakit akibat guna-guna. Datu sebagai pendamping Raja memiliki kemampuan luar biasa untuk memberikan berbagai macam traditional wisdom (kearifan tradisional) yang sangat dibutuhkan untuk kesempurnaan hidup komunitas huta (kerajaan) ketika itu.

Kembali ke "Sejauh Kaki Melangkah", sebagaimana halnya di kota-kota besar dunia, di Hong Kong juga terdapat Hardrock Cape dengan ciri khasnya sendiri, sehingga agak beda dengan Hard Rock Cape yang ada di kota-kota besar lain. Eksistensi Hardrock Cape di banyak kota besar dunia menunjukkan bahwa Hardrock Cape sudah menjadi semacam "icon" masyarakat modern, terutama di kalangan remaja, bahkan termasuk bagi sebagian orang-orang yang sudah cukup berumur. Bagi anak muda sekarang, dengan mengenakan kaos berlogo Hardrock Cape membuatnya bangga dan senang. Mungkin generasi penerus kita ini lupa bahwa yang membedakan "orang modern" dan "orang kampungan" bukanlah soal "penampilan kren" semata, melainkan "cara berpikir" yang membawa kemajuan bagi kemaslahatan hidup manusia: "I think therefore I'm", ujar Aristoteles.


London ~ Inggris
Poundsterling dan Abit Marikin


Banyak orang yang sependapat bahwa biaya hidup di London-Inggris sangat tinggi. Beberapa hari menetap di sana (semisal transit saja) akan membuat kantong kita "cekak", terutama bagi kita yang berasal dari negara miskin. Membeli sebuah kaos oblong bersablon "Cambridge University" yang cukup mengundang hasrat untuk memilikinya, namun karena harganya 300 ribu rupiah di London, membuat kita kembali berpikir berulang kali, sayang ... duit sebanyak itu bisa beli 20 buah kaos "Dagadu" produk Kota Gudeg, Yogyakarta.


Di kampungku dahulu, bangsa Amerika dikatakan "Bangso Marikin". Ketika mandi di tepian sungai Batang Gadis, kami memakai "abit maridi" (kain basahan) penutup aurat yang dibuat dari jenis kain "abit marikin". Mungkin, jenis kain seperti (kain basahan) ini dulu dikira berasal dari "Banua Marikin" negerinya Paman Sam, namun pastinya saya tidak tahu. Yang pasti, di setiap rumah orang Mandailing dulu terdapat minimal 2 helai "abit marikin" untuk keperluan mandi di tepian sungai, satu untuk perempuan dan satu lagi bagi laki-laki. Ketika sedang mandi di tepian sungai, kaum wanita adakalanya melakukan aktifitas musikal yang disebut markatimbung, dengan teknik dan cara-cara tertentu kedua belah tangan dimasukkan secara bergantian ke dalam air sehingga menimbulkan "bunyi musikal" yang bisa menarik perhatian kita ketika mendengar dan melihat mereka sedang markatimbung pada siang hari di tepian sungai. Bila "kegiatan musikal" di tapian tersebut dilakukan 2 atau 3 orang wanita, maka "bunyi musikal" yang terdengar bisa mirip seperti "bunyi musikal" yang muncul ketika ibu-ibu dan atau anak-anak gadis menumbuk padi 


dengan lesung dan antan (disebut manduda: marsidua atau marsitolu) di samping rumah mereka sambil bercanda-ria. Sekarang, kegiatan menumbuk padi dengan lesung dan antan sudah tidak pernah mereka lakukan lagi karena telah digantikan oleh mesin penggiling padi yang disebut masin padi. Meskipun demikian, di setiap rumah orang di Mandailing sampai sekarang masih terdapat lesung dan antan yang digunakan untuk membuat tepung dari beras atau pulut sebagai bahan utama pembuatan kue-kue seperti kue sapit dan kombang samangkuk. Selain itu, mereka juga masih menggunakannya untuk menumbuk daun singkong (bulung gadung) dan buah kepokak (rimbang) untuk membuat gulai sayur khas yang sangat digemari pada umumnya orang Mandailing, yaitu gule bulung gadung. Agar gule bulung gadung semakin nikmat ketika disantap bersama nasi, biasanya bulung gadung dimasak bersama-sama dengan "ikan asap" (gulaen sale: garing, lelan, dan limbat) atau ikan asin aso-aso dari Natal yang terletak di pesisir pantai barat Pulau Sumatra.<3>

Gandoang, 12 November 2007.

Talk about Gordang Sambilan klick here: Gordang Musik Adat Mandailing

2 comments:

  1. biado katuaa... mardalan dalan ma jolo tu varhand.wordpress.com

    ReplyDelete